Kamis, 04 Juli 2013

Hype: Yang Terlupakan dalam Sejarah Grunge


Grunge tidak lahir dari selangkangan Kurt Cobain dan Courtney Love, melainkan dari jalinan tangan suatu komunitas di Seattle. Fakta tersebut yang ingin diluruskan oleh Hype, dokumenter garapan Doug Pray tahun 1996 silam.
 Sebagai fenomena budaya pop yang menghebohkan dekade 90-an, kelahiran dan kematian grunge disimbolkan dalam dua ledakan: ledakan kreativitas para partisipannya, dan ledakan senapan yang membobol kepala Kurt Cobain.
 Di antara dua ledakan tersebut, ada dinamika industri musik yang nantinya mendefinisikan posisi grunge dalam sejarah musik.
 Ada band-band kecil yang menghilang begitu saja, dan ada nama-nama besar yang terus-menerus dirotasi media. Pada dinamika antar band tersebut,
 Hype menenun narasinya tentang sejarah grunge.
Pertanyaan bagi setiap narasi tentang sejarah adalah: siapa penyusunnya? Pada pembacaan yang lebih luas, sejarah bukanlah sekadar kronologi kejadian, melainkan sebuah wacana yang disusun oleh suatu pihak.
 Oleh karena itu, penyusunan narasi sejarah mau tidak mau terikat dengan kepentingan dan kompetensi penyusunnya. Doug Pray berasal dari Hollywood. Ia tumbuh besar dan belajar film di sana.
Hype mengharuskan dia keluar dari Hollywood, baik dari pandangan dunianya maupun pakem produksinya, dan mencoba merekam sebuah fenomena di Seattle. Untuk menjadikan Hype sebuah potret yang menyeluruh tentang grunge, ada jembatan pengetahuan yang harus diseberangi Pray. Dia tidak saja harus melakukan riset perihal grunge, tapi juga masuk ke dalam nuansa kehidupan sehari-hari di Seattle. Pada titik ini, kapabilitas Doug Pray sebagai penyusun narasi sejarah diuji. Ia harus menegosiasikan dua hal yang kontradiktif: tuntutan Hollywood untuk mengedepankan nama besar, dan keinginannya mengangkat nama-nama yang tak pernah dianggap di lingkaran media.
Menilik dari perkembangan plot film Hype, Pray memulai narasi tiga babaknya dari akar kota Seattle, lalu menyusuri perjalanan musik grunge secara sosio-historis. Babak pertama ia isi dengan adegan-adegan para musisi Seattle, pemilik label rekaman, jurnalis dan warga lokal bicara tentang kotanya. Semuanya bukan nama-nama tenar, dan bicara tentang Seattle dalam nada nostalgis, seakan-akan ada kehilangan besar yang mereka rasakan. Narasumber yang Pray pilih jelas menyokong niatnya memotret grunge secara komprehensif. Pasalnya, semua narasumber tersebut berasal dari akar rumpun kota Seattle, orang-orang yang lama tinggal di sana dan paham betul seluk beluk kotanya. Menurut para narasumber tersebut, Seattle dulunya bukan apa-apa. Seattle hanyalah kota terpencil yang dihuni pemalas, pemabuk, dan pembunuh berantai. Salah satu narasumber bilang, “Soal kasus pembunuhan berantai yang tak terpecahkan, kota ini nomor satu di Amerika.” Kondisi tersebut menjadikan Seattle tidak terlalu dilirik di belantara permusikan Amerika. Sedikit sekali band yang mau mampir. Para EO pun juga ogah mengadakan acara musik besar-besaran di Seattle. Praktis Seattle menjadi kota yang kering hiburan.
Babak kedua menjadi gambaran konsekuensi dari kondisi yang diceritakan di babak pertama. Pada babak ini, Pray melanjutkan fokusnya terhadap akar rumpun kota Seattle. Fokusnya adalah pola relasi warga kota Seattle, dan pengaruhnya terhadap perkembangan grunge. Nyaris tertutup dari dunia luar, Seattle memungkinkan penduduknya untuk menjalin ikatan yang kuat. Semua orang kenal satu sama lain, dan mudah saja bagi mereka untuk saling menghibur satu sama lain. Gitaris A bisa bermain untuk band B, sambil membantu band C di acara D, yang diselenggarakan di tempatnya E, yang bermain drum untuk band F, yang latihan di satu garasi bersama bandnya gitaris A. Etos do-it-yourself plus kebersamaan itulah yang mendasari band-band di awal-awal kemunculan grunge, yang satu per satu Pray perkenalkan lewat klip penampilan live mereka. Sebut saja The Gits, The Melvins, The Posies, 7 Year Bitch, dan Coffin Break. Nama-nama inilah yang lenyap di babak ketiga, ketika fokus pembahasan Hypepindah ke eksploitasi grunge oleh media. Berkat kacamata media yang sempit, ledakan grunge sebagai sensasi dunia musik dialamatkan pada tiga nama saja: Pearl Jam, Soundgarden, dan Nirvana.
Secara taktis, Pray menaruh klimaks Hype pada kematian Kurt Cobain. Kebijakan Pray tersebut membingkai kematian grunge sebagai sesuatu yang tragis, sebuah gambaran yang berima manis dengan suasana nostalgis di awal film. Pasalnya, warga Seattle memang telah kehilangan grunge, dan mereka hanya bisa berkabung atas kematiannya di tangan media. Kematian Cobain menjadi representasi yang ikonik dari kematian semangat asli grunge. Sesuatu yang awalnya lahir bukan karena motif ekonomi, ujung-ujungnya mati sebagai ornamen dalam ruang-ruang komersil. Secara ironis, Pray mengkontraskan klip penampilan live band-band grunge dengan montase produk berlabel grunge: mulai dari “baju grunge”, acara-acara televisi nasional, hingga remix elektronik lagu Smells Like Teen Spirit.
Sayangnya, dengan menekankan kematian Cobain sebagai akhir dari grunge, Hype malah menyalahi niat awalnya. Hype memutus rantai narasi film yang berfokus pada komunitas grunge, dan menjebak dirinya dalam perspektif sempit ala media-media yang Hype coba kritisi. Menjadikan Cobain sebagai alasan utama kematian grunge jelas sangat menyederhanakan realita yang ada. Pasalnya, ada dua kejadian lainnya yang memecah belah grunge di level komunitas. Kejadian pertama adalah kematian Andy Wood, vokalis Mother Love Bone. Kematian Wood menjadi pukulan telak bagi komunitas grunge, karena Wood adalah salah satu figur yang turut mengembangkan grunge sejak awal. Kala kompatriotnya mulai menuai sukses sebagai ikon budaya pop, Wood meninggal dunia. Hal ini membuat banyak orang dalam komunitas grunge mulai jengah dengan ketenaran yang media sematkan pada mereka. Kejengahan tersebut sukses Pray tangkap dalam beberapa adegan wawancaranya. Masalahnya, Pray sebentar sekali menyorot kematian yang menyulut kejengahan tersebut. Pray lebih memilih memajang adegan panjang puluhan orang menangisi Cobain, ketimbang mendokumentasi lebih jauh reaksi komunitas grunge terhadap kematian Wood.
Kejadian kedua adalah pemerkosaan dan pembunuhan Mia Zapata, vokalis The Gits. Menurut beberapa catatan sejarah, kejadian ini yang paling memukul komunitas grunge. Kematian Zapata membuat banyak band Seattle merasa tidak nyaman menjadi selebritis lokal di kotanya. Satu per satu, mereka bubar, ganti aliran musik, atau menjauhkan diri dari sorot media. Karena ketidakmampuan polisi menemukan pelaku kejahatannya, kasus Zapata jadi sangat terkenal, sampai-sampai ia menjadi bagian dari budaya pop Amerika pada jamannya. Ratusan koran dan majalah meliput kasus tersebut. Belasan stasiun televisi mendedikasikan berjam-jam slot acara mereka untuk membahas kasus tersebut. Bahkan, tiga band grunge pujaan media (Nirvana, Pearl Jam dan Soundgarden) mengadakan konser tribut untuk Zapata. Mengingat The Gits turut disorot di babak kedua film, bagaimana bisa Pray tidak sedetik pun merujuk kematian Zapata dalam Hype?
Kegagalan Pray mengkontekskan kematian Wood dan Zapata menjadikan Hype timpang: ketat di depan, kendor di belakang. Perspektif luas yang Pray usung di awal film tiba-tiba menyempit di akhir film, menjadikan Hype kurang komplit sebagai sebuah potret komunitas. Meski begitu, sebagai narasi sejarah grunge, Hype hampir secara utuh mengangkat apa yang selama ini media sepenuhnya abaikan: darah dan keringat komunitas yang melahirkan grunge. Pembabakannya yang jelas, referensinya yang komprehensif, serta perhatiannya terhadap akar rumpun Seattle membuat Hype layak disaksikan. Terutama bagi mereka yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik popularitas grunge.
  

Senin, 01 Juli 2013

Hanya Perlu sedikit perubahan

Oke, kali ini bukan soal perasaan gw, ini lebih ke pengembangan kreatifitas gw. gw cuma mau sedikit mengubah isi blog gw yg isinya kegalauan gw tentang cinta, menjadi suatu yg sedikit hiburan dari apa yg bisa gw lakuin
Beberapa hari yg lalu, gw sibuk buat memeras otak dan mengembangkan imajinasinya untuk membuat suatu cerita, sedikit gw taro di sini cuma sample aja sich, lagian juga gak ada yg tertarik sama blog gw ini. cerita ini gw persembahin buat kalian yg masih sudi buat ngeliat blog gw. gw juga sendiri masih bingung untuk kasih judul cerita ini. dan percayalah, ini bukan (sedikit) pengalaman pribadi gw.


Awan sudah siap-siap untuk melaksanakan aktifitasnya sebagai karyawan swasta pergi bekerja dengan menggunakan kendaraan umum, keadaan tak seperti biasanya tempat biasa ia menunggu kendaraan umum begitu penuh, entah apa yang membuat tempat itu begitu penuh dari biasanya. Ketika ia lihat jam di tangannya menunjukan pukul 06.30 WIB.

Tersadar bahwa dia akan kesiangan sampai kantor, ia pun bergegas untuk mendapatkan kendaraan yang biasa ia naiki.  namun suasana hampir Chaos karena setiap orang punya niat yang sama dengan Awan yaitu bergegas sampai tempat tujuan.


Bang pelan-pelan dong, jangan dorong-dorong!!!” omel seorang perempuan tanggung dengan seragam SMA.kalo gak mau desek-desekan jangan naik bus dek, naik taksi aja sana” sahut bapak-bapak yang tampaknya seorang Pegawai Pemerintahan.                                                                                                                                                                                                            
Semua orang yang menunggu di tempat itu naik bus dengan agak sedikit desak-desakan.
Setelah agak beberapa lama tempat itu pun sekejap menjadi sepi. Hanya tinggal tersisa Awan yang masih shock dengan kejadian yg cukup membuat anak kecil menangis karena kepanasan.
Masih belum beranjak dari tempat dia berdiri Awan di kejutkan dengan seorang gadis yang tiba-tiba muncul dan bertanya kepada Awan


“maaf mas, numpang tanya. Kalo jurusan ke UI kemana ya?” tanya perempuan yang agak sedikit gemuk dan bermata bulat.
Awan yang masih memperhatikan gadis itu pun belum bisa menjawab pertanyaan si gadis itu.
“mas kalo jurusan ke UI jurusannya kemana ya??” tanya si gadis itu lagi, dan membuat Awan pun selesai memperhatikan si gadis itu. lalu menjawab “hah? UI? Lewat stasiun Pasar Minggu aja Mbak, Trus Naik Kereta
listrik” Jawab Awan.

“Jauh gak ya mas? Saya baru 2 hari di jakarta” ucap si gadis itu lagi.
“ emang si mbak asalnya darimana? Ngapain Ke UI?”tanya Awan lagi seraya curiga.“saya dari bali mas kenalkan nama saya Desak Ayu Sukma panggil aja Desak atau Sukma, saya mau kuliah di UI  mas” jawab si gadis yang katanyanya Desak Ayu    itu sambil mengulurkan tangan.

Gue Kurniawan panggil aja Awan” membalas uluran tangan Desak “gue panggilnya sukma aja ya.?” Tambah Awan.
“ooh Yaudah bareng aja sama Gue, kita searah, Gue kerjanya juga di depok kok" Awan menawarkan “beneran mas, maksih ya. Maaf kalo merepotkan ya” kata Desak,
 “iya gak apa-apa gak ngerepotin kok, lagian
kan lu baru di Jakarta, entar lu nyasar lagi” ucap Awan.

Tanpa pikir panjang mereka pun pergi menuju stasiun pasar minggu, mereka berbincang di perjalanan. Setelah cukup lama mereka berbincang diam-diam Awan pun merasa kagum dan menyukai gadis yg ternyata sangat periang dan murah senyum itu, dan Sukma pun merasa demikian. Beberapa menit kemudian mereka sampai di Stasiun UI, Sukma pun turun dari kereta listrik dan dibelakang Awan pun ikut turun, Sukma pun Kaget.

“lho mas!? Kok ikut turun juga? Katanya si mas nya turun di Depok Lama?” Tanya Sukma ke Awan.

 “ah enggak, ini Cuma mau mastiin aja, kamu sampai tempat tujuan dengan selamat” Jawab Awang yg sudah mulai salah tingkah. Sukma pun hanya membalas dengan senyuman.
 “hmm gini Sukma, lu kan gak tau nanti pulangnya gimana dan belum hafal, gue boleh minta nomor Handphone lu gak, kalo gak lu gue tunggu di stasiun ini.” Kata Awan.
Sukma pun member Nomor Handphone nya ke Awan dan Menyetujui usul Awan. Lalu terdengar suara klakson kereta yang menandakan bahwa kereta akan segera berangkat.
 “oke, sampai nanti sore ya?” kata Awan, dan Sukma pun menganggukan sambil melontarkan senyuman. Awan pun menaiki kereta yang Ia tumpangi dan melanjutkan perjalanan.
 Hari menjelang sore, waktu menunjukan pukul 15.30 WIB. Awan pun pun yang biasanya menyisihkan waktu lebih lama di kantor kini dia bergegas menuju stasiun Depok Lama, dia khawatir Sukma menunggunya bahkan malah meninggalkannya.kereta pun tiba, tapi kali ini dia harus bersabar karena kereta tak bisa mengikuti kemauannya, sambil menunggu dan harus bersabar Awan SMS Sukma agar bersabar dan dia sedang menuju stasiun UI. Setelah sampai di Stasiun UI, Awan melihat Sukma sedang duduk di peron sambil memainkan Handphonenya. Dia pun bergegas menghampiri.
“Halo! Udah lama nunggunya??” Tanya Awan,

“ya lumayan, dari jam 15.00 WIB  tadi” jawab Sukma sabil tersenym dengan logat Bali yang masih kental.

 “aduh ma’af ya? Tadi gue keluar kantor jam 15.30 WIB” kata Awan.

 “Iya gak apa-apa kok mas lagian kan aku tadi udah janji mau tungguin si mas nya sampe dateng ke sini” jawab Sukma dengan kalem.

 “oke, untuk menebus kesalahan gue, gimana kalo lug w traktir makan dan jalan-jalan keliling jakarta, Gimana?” usul Awan,

 “hmm kalo jalan-jalan jangan sekarang ya mas, ini kan udah sore juga” tawar Sukma,

 “yaudah kalo gitu kita makan aja deh dulu, lu pasti belom makan kan?” Tanya Awan
 dan di sambut dengan gelengan kepala Sukma.

“oke yuk kita makan nanti abis itu gue anterin pulang” Tambah Awan.

Mereka pun pergi mencari tempat makan, sembari berbincang Awan pun memperhatikan orang yang baru di kenalnya tadi pagi. Perasaan yang Awan rasa berbeda dari perempuan yang baru dikenalnya, untuk urusan pasangan, Awan memang tidak sembarangan.
Dia sangat selektif, banyak gadis yang suka padanya bukan karena dia ganteng atau kaya, karena Awan  laki-laki yang baik dan setia kawan.
Setelah makan, Awan pun kembali ke stasiun UI untuk mengantarkan pulang Sukma ke daerah Cilandak dan pulang ke Jagakarsa.

Waktu berjalan cukup lama, Awan dan Sukma Berhubungan, tapi hanya sebatas teman. Awan merasa belum menemukan waktu yang tepat untuk menunjukan rasa sayangnya kepada sukma.
padahal beberapa kali sukma memberikan kesempatan kepada Awan untuk menunjukan rasa sayangnya, tapi Awan tidak menyadarinya.

“Awan, tau gak tadi itu aku di godain sama seniorku, aku malu banget” seru sukma seraya membuka pembicaraan

“hah Siapa?  trus kamu diapain? Tapi kamu gak apa-apa kan?” Awan bicara agak panic.

“hihihihihi gak lah, Cuma di godain gitu mau minta kenalan, tapi teriak-teriak di depan kampus dia tuh senior aku namanya agung gak mungkin lah aku di apa-apain” jawab Sukma sambil tertawa.

“ooooh, kirain apa’an. Trus kamu mau kenalan sama dia?” Tanya Awan agak kesal

“iya lah, masa gak, nanti aku dibilang sombong lagi kalo gak mau” tegas Sukma

“alah paling juga besok-besok juga kamu jalan sama dia, trus jadian deh.” Kata Awan dengan nada sinis.

“gak lah, aku lagi nunggu seseorang kok” katan Sukma dengan mantap.

Setelah Satu minggu  Awan tak mendapatkan kabar dari Sukma, dia menjadi gusar dan merasa ada yang kurang setelah satu hari beraktifitas,tak seperti perbincangan terakhirnya dengan Sukma Satu minggu yang lalu.
Dia hanya bisa berpikir “mungkin Sukma sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.

Dua hari kemudian Awan berpikir ini ada lah waktu yang tepat untuk memberitahukan perasaannya kepada Sukma.
Tiba tiba ada SMS di Handphone Awan “Awan, besok kita ketemu di stasiun UI yuk! Aku ada kejutan buat kamu”

Awan pun merasan semesta mengijinkannya dan iya pun kembali tersenyum. Keesokan harinya Awan berhenti di Stasiun UI dan sedikit menunggu Sukma, beberapa menit kemudian Sukma datang tapi tak seperti biasa, dia datang berdua dengan seorang laki-laki, agak sedikit curiga, awan pun berusaha berpikir positif.
  “halo, udah lama ya nunggunya?” Tanya Sukma yang seperti biasa selalu ceria
“gak kok baru 15 menit yg lalu, ada kejutan apa sich?” Tanya awan berusaha memecahkan penasaran.

“oh iya kenalin ini Mas Agung, yang tempo hari kita obrolin” seru Sukma


“oh ini orangnya, kenalin Awan” kata Awan sambil menyodorkan tangan.

“Agung” membalas sodoran tangan Awan.

“Awan, Mas Agung ini sekarang Pacar aku, aku pengen banget dia kenal sama kamu,sahabat aku” kata Sukma.

“oh pacar kamu, kapan jadiannya?” Tanya Awan sambil pasang senyum palsu.

“baru 2 hari yang lalu kok, ya kan Bi?” Tanya Sukma kepada Agung.

“Iya, baru 2 Hari” Tambah Agung.

“ooh 2 Hari yang lalu, oiya, maaf nih aku gak bisa lama-lama, soalnya tadi Bos ku minta supaya aku balik lagi kekantor buat temenin dia meeting di Jogja.” Awan memberi alasan.

“yah gak seru ah, masa kerja lagi sich padahal aku mau ajak kamu makan, buat ngerayain hari jadian aku” jawab Sukma dengan penuh kecewa.

“lain kali kan bisa,nanti kalo udah gak ada urusan pasti aku hubungin deh. Oiya selamat ya Gung, jagain Tuh si Sukma, jangan sampe bikin dia nangis, kalo dia nangis. Gue adalah orang pertama anyg bakal kasih bogem mentah ke muka lu” kata Awan sembari senyum, dan Agung hanya mengangkat jempolnya saja.

Karena hampir tak bisa meembendung air mata, maka Awan segera bergegas meninggalkan Sukma dan Agung agar tak terlihat air mata yang menetes. (Bersambung)





ya ini baru sebagian, rencananya gw mau perpanjang lagi. inisich sekalian buat promosi aja. buat kalian yg sudah baca, bersegera lah mencuci mata anda takutnya kena infeksi. gw gak punya basic dalam menulis, kalo ada yg punya ilmu coba lah gw di kasih saran. dan komentarnya. 
THX sampurasun om swastiastu. \(^-^)/