Selasa, 18 Desember 2012

Kasih Sayang Seorang Ayah Sungguh...........??

Akhir-akhir ini banyak orang yang dekat dengan saya kehilangan orang yang (menurut mereka) di cintainya, Maaf bukannya saya tidak mengerti. tapi saya sendiri bingung harus bagaimana menyikapinya, paling yang keluar dari bibir saya hanya "yang sabar ya", saya sudah mengalami hal ini.
Ketika ayah saya meninggal saya di beri tahu ketika sudah sepuluh hari setelah Beliau meninggal. Apa yang saya rasakan?? Saya juga tidak mengerti harus melakukan apa.


Sejak saya umur 3 tahun, Ibu saya berpisah dengan Ayah saya. sejak itu saya tidak pernah mengenal figur seorang Ayah, jadi wajar jika saya bersikap kurang ajar terhadap orang-orang atau tetangga yang selalu membicarakan keluarga saya, karena tidak ada yang membela kehormatan keluarga saya. ketika saya berumur 12 tahun Ibu saya menikah lagi. Saya pikir saya akan mendapatkan kasih sayang dari Ayah baru dan ternyata tidak sama sekali, Ayah baru saya tidak perduli dengan apa yang saya lakukan, seburuk apa pun itu, ia tidak komentar sepatah kata pun, untuk pemikiran bocah umur 12 tahun pasti merasa percuma walalu punya ayah baru pun kalau hanya di diamkan, Saya hanya berharap kepada ayah kandung saya. Tapi sepertinya Ayah kandung saya Seperti tidak memperdulikan saya. hingga saya bertekad jika saya sudah besar nanti saya akan mendatanginya dan saya akan menamparnya sambil berkata "Ayah Aku Ini Anak Mu, Kenapa Kamu Dulu Tidak Memperdulikan Ku?? Apa kamu Tidak Menginginkan Ku??".
Sejak sa'at itu saya isi hati saya dengan kebencian terhadap Ayah kandung saya hingga saya pun mulai melupakannya.
3 tahun berlalu saya pun mulai beranjak di bangku SMK tahun pertama sekitar tahun 2005/2006. Sepulang sekolah Ibu saya berlari dan memeluk saya, saya yang masih kebingungan pun bertanya ada apa sebenarnya. sambil menangis Ibu saya berkata bahwa Ayah saya meninggal 10 hari yang laliu. saya hanya diam, mungkin bagi orang yang merasakan kasih sayang Ayah dari kecil pasti akan mengangis sebisanya, karena saya terlanjur menanam kebencian, setitik air mata pun tak keluar. dalam benak saya hanya "kenapa kamu pergi sebelum saya menamparmu sambil berkata demikian??".

Sampai saat ini saya mulai mema'afkan dan mendoalan agar iya tenang di sana. Dan saya pun sadar, suatu saat nanti saya pun akan jadi Ayah dan saya tidak mau menjadi seperti Ayah saya ketika menelantarkan saya dan Ibu saya.


jadi ketika oprang yang di dekat saya berkata " kamu tidak mengerti jika harus hidup tanpa seorang ayah " saya hanya tersenyum dan diam saja. Tentu separuh dari hidup saya saya habiskan percuma tanpa figur seorang Ayah.


Dan sampai saat ini saya tidak tau apa rasanya kasih sayang dari seorang Ayah..


udah dulu dah udah mentok nih....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar